Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan


Engkau di mimpiku telah hilang
perlahan berubah menjadi mozaik-mozaik pecah
dan terurai menetaskan sajak-sajak berirama sendu
entahlah,
malam sempat berkata bahwa memimpikanmu
adalah lukisan abstrak relung terdalam
memimpikanmu adalah potret imajinasi
yang berdiri di atas sembilu duri-duri kenyataan
memimpikanmu berarti menyimpan hati yang tertidur
di dalam ideologisme rapuhmu tentang cinta
tapi entahlah,
mimpi mungkin tak lebih dari siluet-siluet semu
yang sesaat membuat teduh jiwa yang teriris perih
mimpi mungkin hanya caramu memanjakan perasaan
disaat kau sadar,
bahwa peluru tercepat telah melesat kencang
menghantam indah prosa-prosa yang telah kau tumpuk
memecahkannya menjadi aksara yang bertebaran
tanpa makna…
tapi entahlah,
aku masih ingin berziarah melihat museum diriku
mengenang kronologi pecahnya gelas jiwa kristalku
sampai lantunan indah lagu-lagu makar komunisme
aku ingin kembali ke masa lalu
di titik retak krisis ini
di saat semuanya belum mencapai klimaks
di saat semua kepalsuan mulai merebak harum bagai bunga
dan indahnya cinta yang mereka puisikan terjadi
tepat di belakangku…
tapi entahlah,
aku sudah lelah membuang umpat lewat sajak-sajak ini
mungkin aku harus mengambil kertas baru,
mulai menuliskan puisi untuk persona yang berbeda
dan membuang carut-marut yang terselubung indah
yang selalu kutujukan untuk dirimu…
senyum indah yang tak ingin ku ingat,
kuntum harum yang tak ingin ku kecup…
maaf untuk aku yang selalu bersikap manis di depanmu
dan sendunya rima-rima puisi kontradiktif ini
maaf untuk aku yang masih tersesat di belantara kelam
memorabilia waktu kita yang tiada lagi beririsan 
13 Mei 2012
Selengkapnya...

Surat Laut 4
Aku yang malam dan aku yang siang bertemu di suatu senja kuning. aku yang malam berkata lirih seperti berbisik sedih;
“Aku tak hendak membunuhmu dengan menarik bentang malam, aku sangat mencintaimu,” ucap aku yang malam pada aku yang siang sembari menatap cakrawala kuning kunyit di mata mega
“Aku mengerti, biar kau genapi balutan waktu yang setia menetes kala senja remang seperti ini, aku mengerti, sebab aku juga teramat mencintaimu,” jawab aku yang siang dengan merapatkan cadik ke tepi

Lantas kami saling berpelukan. yang satu memimpikan pekat yang satu memimpikan benderang. ikan-ikan berenang-renang di dasar lautan. tak ada yang mengerti bahwa dari musim ke musim, lautan selalu menyaksikan aku yang malam dan aku yang siang membagi pengertian dan kesementaraan
Maka, aku yang malam lantas menjadi lembaran hitam di langit dan aku yang siang menjadi ikan yang berenang di dasar lautan menuju ke timur, kembali untuk nantinya kami bertemu mengamini waktu
[Sedayu, 2009 ]

Perbedaan adalah keniscayaan; menjadi beda bukan berarti diferensiasi yang diciptakan untuk menyatakan diri. Sebagaimana identitas diyakini sebagai jatidiri, identifikasi terhadap kehakikian atau hakekat diri yang esensial sifatnya. Oleh sebab wacana bahwa diri merupakan konstruksi atau reaksi atas keberadaan yang lain, maka diri dinilai sebagai subjek yang tak otentik dan tak mungkin menemukan kemurniannya. Otensitas adalah imaji belaka, hanya angan yang tak mungkin digeser dari dunia imaji dan simbolik ke dunia real.
Pemahaman ini sekaligus mengarahkan pada pesimisme dalam pembentukan diri. Hal yang berbeda dengan penemuan jatidiri yang mesti diyakini pencapaiannya dengan optimis, kedewasaan misalnya meskipun sebelumnya bakal melalui tahap kekanak-kanakan atau kenakalan; meski sulit letih bakal dihadapi dan kemungkinan yang terburuk sekalipun bisa terjadi, tetapi harapan dan cita-cita tak boleh berhenti. Imaji harus terus dijaga, kesadaran perlu direalisasikan, dan sekaligus mimpi dipertahankan. Meskipun dalam hidup mengandung ironi, paradoks dan ambivalensi, pemahaman nilai tidak dapat diabaikan begitu saja.
Dalam tulisan ini saya sekadar membaca sajak Ahmad Kekal Hamdani yang berjudul “Surat Laut 4”. Sajak ini, seperti diakuinya dalam buku Antologi Rembulan di Taman Kabaret, ditulis pada tahun 2009 ketika mengantarkan jenazah seorang kawannya. Perjalanan yang melintasi laut menuju pulau Bawean, di pelabuhan Sedayu, ia merenung kehidupan yang malam dan yang siang hanya waktu, dan di waktu nanti kita akan bertemu lagi. Seperti sangkan paraning dumadi, kata orang Jawa. Bagaimanapun tingkah polah dalam hidup, baik atau buruk perilakunya pasti akan kembali kepada yang ilahi. Semacam keyakinan pada yang mitis, yang ideal, keimanan etis yang merujuk pada dumadi; hidup bakal diserahkan atau dikembalikan pada yang abadi. Bagaimana dengan hidup yang meruang dan mewaktu ini?
Dalam sajak ini pengarang seperti memimpikan dunia tanpa retak, tanpa tikungan dan kebencian, sebagai sisi lain dari diri manusia yang penuh kasih sayang. Idealisasi yang ditulis pengarang sepertinya mustahil dalam dunia riil, meskipun bisa saja bahwa ini hanya kerinduan barangkali atau suatu bentuk ungkapan kekecewaan atas kekacauan dikotomik. Pertama-tama kita simak perbedaan di dalam tubuh aku lirik. Aku yang malam digariskan pada pekat, bentangan malam dan lembaran hitam; sementara yang siang dirumpunkan secara konvensional dengan benderang. Pembedaan ini oleh pengarang dipertemukan dalam diri ‘aku’.
Nah, menariknya tempat pertemuan itu adalah waktu, yang berarti adalah dirinya sendiri—sebab malam dan siang merupakan bagian dari tubuh waktu. Selain aku yang mewaktu—siang dan malam—dituliskan subjek lain: lautan. Maka, lautan semacam orang lain yang meyaksikan polah aku yang dua itu. Satu lagi selain ‘bertemu’ dan ‘cinta’ menjadi gerak lintas yang menghubungkan aku yang siang dan aku yang malam, dituliskan pula mereka ‘membagi’ pengertian dan kesementaraan, yang bisa jadi kesamaan atau saling pengertian berarti pula kesementaraan.
Dengan demikian, pengarang seperti tak mengungkapkan adanya kenyataan, bahwa dalam kehidupan tak hanya ada cinta, kesetiaan, kedamaian, keindahan, kenyamanan, dan seterusnya, tetapi kekejaman, pembunuhan, tragedi, kemiskinan, kematian, dan sejenisnya pun merupakan kenyataan dalam hidup. Meskipun dalam aku lirik seakan-akan diungkapkan perbedaan, tetapi kemudian hanya sementara, perbedaan kemudian ditenggelamkan dalam aku lirik yang mengamini waktu; meskipun seakan-akan ada dikotomi tapi sebenarnya keakuan yang tunggal, subjektivitas yang kuat dalam waktu. Aku yang begitu damai tanpa penderitaan, aku yang bahagia sebab saling mengerti dan berbagi, aku yang saling mencintai. Maka, di sini pengarang telah mengandaikan adanya logos; bahwa kedamaian seperti yang pengarang idealkan sekaligus telah menjadikan kekacauan sebagai ‘yang lain’ atau kelainan: pembunuhan, kekerasan, perbedaan atau konflik, dan sejenisnya merupakan bukan kehidupan yang ideal.
Selanjutnya, di sini mewujud oposisi biner. Yang aku adalah yang pertama dan ‘yang lain’ menjadi oposisi selain aku; cinta damai lebih utama daripada konflik. Pandangan demikian tampak seperti jiwa-jiwa romantik, pengarang barangkali mengangankan adanya idealisasi kehidupan sebagaimana “aku mengerti, sebab aku juga teramat mencintaimu”; manusia diandaikan seperti aku yang mencintai kehidupan, dengan memahami perbedaan satu sama lain. Suatu kerinduan yang setia ditempuh dalam jalan kesunyian, jalan sebagai seorang penyair. Baginya menjadi hidup adalah pilihan, barangkali demikian.
Dikutip dari katafath.
Selengkapnya...

Duhai jiwa,
adakah kau sadari,
betapa engkau tak bisa tunduk dalam kuasa Illahi,
betapa engkau tak mampu tegak berdiri dalam bimbingan fitri,
betapa engkau tak bisa tenang dalam bisikan malaki,
betapa engkau tiada arti, hanya menuruti dorongan birahi,
hanya mengikuti panggilan syahwati, hanya menaati perintah syaithani,
hanya berlari mengejar fatamorgana duniawi.

Duhai jiwa,
tak bisakah kau berhenti berlari,
tak bisakah kau duduk sendiri,
merenung dalam ruang hati,
bersimpuh di atas hamparan bakti,
menutup mata dari kilau tak asli,
dan membukanya tuk mencari cahaya hakiki,
menutup telinga dari hingar bingar janji tak pasti,
membukanya tuk kedamaian ukhrawi

Duhai jiwa, di mana engkau kini,
di persimpangankah engkau berdiri,
atau jauh menyimpang dari jalan lempang para Nabi,

Duhai jiwa,
ke mana engkau akan pergi,
ke mana kakimu menuntun jasmani,
ke mana tanganmu menuntun aqli,
ke mana fitrahmu tersesat di awal pergi,

Duhai jiwa,
bersabarlah,
bertahanlah,
berjuanglah,
bermujahadahlah,
bersyukurlah,
bertobatlah,
berdamailah

Duhai jiwa,
sepilah,
sendirilah,
senyaplah,
lenyaplah.
Selengkapnya...

"Illahi, Tuhanku
Hatiku penuh hijab dan jiwaku penuh aib
Akalku terkalahkan dan hawa nafsuku mengalahkan
Ketaatanku sedikit dan maksiatku banyak
Sedangkan lisanku mengakui dosa-dosaku, bagaimana dengan dayaku ???
Wahai Yang Maha Menutupi segala aib
Wahai Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib
Wahai Yang Menghilangkan segala duka dan derita
Ampuni semua dosaku dengan kemuliaan Muhammad
dan keluarga Muhammad
Ya Ghafar Ya Ghaffar Ya Ghaffar
dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih
dari semua yang mengasihi"
Selengkapnya...

About